“Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening atau limfadenopati, sedangkan cacar air tidak,” bebernya.
Verawati bahkan mengungkapkan bahwa virus cacar monyet tersebut masuk dalam kategori penyakit menular. Dampaknya dapat membuat penderita mengalami cacat permanen bahkan hingga kematian.
“Masa inkubasi cacar monyet biasanya berkisar dari 6 hingga 13 hari tetapi dapat pula 5 hingga 21 hari. Jadi gejalanya itu mulai dari sakit kepala, demam akut diatas 38,5 derajat celsius, limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening sampai lesi cacar atau benjolan berisi air ataupun nanah pada seluruh tubuh,” paparnya.
“Penyakit ini menular jika kontak dengan penderita, bahaya terburuknya jika tidak ditangani secara tepat bisa menimbulkan kecacatan hingga kematian,” pungkasnya.
Diketahui, sebelumnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia telah merilis penambahan kasus cacar monyet menjadi 17 kasus terhitung hingga 27 Oktober 2023.
Staf Teknis Transformasi Kesehatan Kemenkes RI, dr. Ngabila Salama dalam keterangan persnya di Jakarta, pada Jumat lalu, menyampaikan bahwa satu penderita cacar monyet sudah dinyatakan sembuh sehingga saat ini tersisa 16 kasus aktif cacar monyet, bertambah dua dari Kamis (26/10/2023).
Cacar monyet sendiri merupakan penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. (SA)






