Disebutkan bahwa, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada level positif dalam beberapa tahun terakhir.
“Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,31 persen pada 2022, kemudian 5,05 persen pada 2023, 5,03 persen pada 2024, dan meningkat menjadi 5,11 persen pada 2025. Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tetap terjaga di angka 5,61 persen,” terangnya.
Menurutnya, Gejolak di pasar modal bersifat temporal dan dipengaruhi sentimen eksternal. Namun, indikator riil pertumbuhan ekonomi menunjukkan Indonesia memiliki basis fundamental yang kuat untuk tetap tumbuh positif.
OJK juga mencatat sejumlah indikator pasar modal masih menunjukkan tren positif. Penghimpunan dana korporasi di pasar modal sepanjang 2025 berhasil melampaui target Rp 200 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp 250 triliun pada 2026.
“Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham meningkat signifikan sepanjang 2025 dan tetap menunjukkan tren positif pada awal 2026,” ujarnya.
Selain itu, Nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi serta Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga mengalami pertumbuhan yang kuat, didukung tingginya minat investor domestik.
Investor pasar modal Indonesia lanjut Bayu, jumlahnya terus meningkat dan telah melampaui 27 juta investor per 13 Mei 2026. OJK mencatat penambahan sekitar 6,71 juta investor sepanjang 2026, dengan dominasi investor ritel domestik dari kelompok usia muda di bawah 30 tahun.
Pertumbuhan investor aktif juga menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, mencerminkan semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam pasar modal nasional.
Pada kesempatan itu, OJK bersama pelaku industri pasar modal, juga meluncurkan Program Nasional PINTAR Reksa Dana sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi investasi, khususnya di kalangan generasi muda.
Program ini hadir untuk mendorong budaya investasi terencana dan berkala di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk reksa dana.
Program PINTAR Reksa Dana mengusung konsep investasi berkala atau Dollar Cost Averaging (DCA), yang dinilai cocok bagi investor pemula karena mampu mengurangi dampak volatilitas pasar, mendorong disiplin investasi, serta dapat dimulai dengan modal kecil. (SA)











