Bandar LampungEKBISLampung

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu dan Tempe di Bandar Lampung Perkecil Ukuran

59
×

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu dan Tempe di Bandar Lampung Perkecil Ukuran

Sebarkan artikel ini

5W1Hindonesia.id, Bandar Lampung – Memperkecil ukuran tahu dan tempe untuk tetap berproduksi menjadi langkah yang dipilih bagi para produsen tahu dan tempe di wilayah Kota Bandar Lampung.

Hal tersebut lantaran harga kedelai yang saat ini mengalami kenaikan, dari sebelumnya Rp 7 ribu menjadi Rp 9.200 per kilogram.

Produsen sekaligus penjual tahu dan tempe di Pasar Cimeng, Gunarso (35) menuturkan bahwa, naiknya harga kedelai tersebut sekitar dua bulan yang lalu.

Baca Juga  Gubernur Mirza Serahkan Surat Hibah Lahan Kawasan Pusat Pemerintahan Kota Baru kepada Kajati Lampung

Menurutnya, walaupun harga kedelai naik, harga tahu dan tempe tidak bisa ikut naik juga. Namun, hanya ukuran tempe dan tahunya diperkecil.

“Kita ngakalinya diperkecil kalau nggak diperpendek ukuran tempenya. Karena nggak mungkin harganya dinaikkan, nanti yang beli malah tidak ada,” terangnya, Selasa (5/1/2021).

Gunarso mengatakan untuk memperoleh bahan baku kedelainya sendiri tidak sulit, hanya saja pihaknya mengeluhkan harganya yang mahal.

“Biasa kita buat 1 kuintal perhari, namun dengan naiknya harga kedelai ini hanya 60 kg perharinya untuk membuat tempe dan tahu,” paparnya.

Baca Juga  Satgas Pasti Blokir 22 Entitas Penawaran Investasi serta 625 Pinjol Ilegal dan Pinpri

“Dan kita juga nggak tahu harga kedelai tinggi ini kenapa, kita taunya hanya memproduksi saja,” lanjutnya.

Hal serupa dikatakan produsen sekaligus pedagang tempe dan tahu di Pasar Tugu Bandar Lampung, Ade (34).

Menurutnya, kedelai yang dipakai untuk membuat tahu dan tempe adalah impor dari Amerika Serikat. Dimana, harga kedelai lokal saat ini mencapai Rp 8.800 sedangkan impor Rp 9.200.

Baca Juga  Admin Medsos Panti Asuhan di Bandar Lampung Ikuti Pelatihan Digital Marketing

“Karena kalau kedelai lokal itu kurang bagus, tapi kalau kedelai impor hasil tempenya bagus,” jelasnya.

Oleh karenanya, Ia berharap harga kedelai bisa kembali normal seperti sebelumnya, karena sejak pandemi berlangsung pihaknya juga mengurangi jumlah produksi.

“Karena pempeli juga maunya harga seperti biasa dan ukuranya tidak diperkecil. Sehingga pembeli berkurang, otomatis omset juga sedikit menurun,” pungkasnya. (SA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *